Wali

Sunan sunan di Jawa

IBNU SINA (Abu Ali al-Husein Ibn Abdullah) Bpk. Kedokteran Dunia

Ibnu Sina

Ibnu Sina lahir bulan shafar 370 H/ Agustus 980 M di propinsi Bukhara, Pakistan.Nama lengkapnya adalah Abu Ali al Huseyin bin Abdullah bin Hasan Ali bin Sina. Di Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna Ayahnya adalah seorang gubernur di kawasan Bukhara. Beliau meninggal pada usia 58 tahun, pada bulan Ramadhan 428 H / 1037 M. Di makamkan di Hamadhan dan dalam rangka memperingati 1000 tahun kelahirannya pada tahun 1955 di Teheran, beliau dinobatkan sebagai ” Fatherof Doctor ” untuk selama-lamanya dan dibangun monument sejarah untuknya. Makam beliau di kepung oleh berpuluh-puluh makam para dokter yang bangga dikuburkan berdampingan dengan “Bapak KeDokteran Dunia”.

Salah satu kunci kecerdasan Ibnu Sina pernah mengatakan : Setiap aku menyangsikan suatu soal dan tidak mendapat batas pengertian yang benar dalam perbandingannya aku senantiasa ke masjid melakukan shalat dan memohon kepadaNya hingga terbuka bagiku soal itu dan memecahkannya dengan mudah.”

Karya pertama Ibnu Sina yang ditulis saat usia 21 tahun adalah ‘Al Majmu” Semua karya Ibnu SSina dihimpun dalam sebuah buku besar berjudul ” Essai de Bibliographie Avicenna” oleh Pater Dominican di Kairo pada tahun 1950 M. Buku ini diterjemahkan oleh Liga arab dengan judul ” Muallafat Ibnu Siena ” termasuk di dalamnya terdapat buku yangt sangat terkenal yaitu ” Al Qanun fi Ath Thibb” ( Canon of Medicine ). Di Cina buku ini telah menjadi buku standard ilmu kedokteran sejak zaman Dinasti Han. Karya lain Ibnu Sina yang cukup terkenal adalah ” Asy Syifa” ( ” The Book Of Discovery” ) dalam bahasa latin lebih dikenal dengan nama ” Sanatio atau ” Sufficient” terdiri dari 18 jilid. Naskah aslinya tersimpan di Oxford University, London.

Ibnun Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika, dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam.

MENGENAI KA’BAH

Sejarah perkembangan :

Ka’bah yang juga dinamakan Baitul Atiq, Baitulloh  atau rumah tua adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.

Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (Kira kira 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah. Lingkungan Ka’bah penuh dengan patung yang merupakan perwujudan Tuhan bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Tuhan tidak boleh disembah dengan diserupakan dengan benda atau makhluk apapun dan tidak memiliki perantara untuk menyembahnya serta tunggal tidak ada yang menyerupainya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surat Al Ikhlas dalam Al-Qur’an) . Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Bangunan Ka’bah:

Pada awalnya bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu ka’bah terletak diatas tanah , tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi sebagaimana pondasi yang dibuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.

Karena kaumnya baru saja masuk Islam, maka Nabi Muhammad SAW mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.

Ketika masa Abdurrahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibuat sebagaimana perkataan Nabi Muhammad SAW atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam (Suriah,Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Nabi Muhammad SAW pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Ka’bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

Sebagai Muslim kita tahu bahwa Syareat dan Hikmahnya yang kita sembah adalah Alloh Jalla Jalaalah SWT, bukan menyembah  Ka’bah ataupun Hajar Aswat ( Haji dan Sholat adalah Perintah Alloh SWT untuk menghadap Qiblat (Ka’bah)

Pesan/ Dialog Syekh Siti Jenar ( Syekh Lemah Abang ) sblm wafat.

Syekh Siti Jenar, berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar, beliau menetap di Pengging Jawa Timur, disana Syekh Siti Jenar mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging ( Kebo Kenongo ) dan masyarakat, tetapi para Wali Jawadwipa/ Wali Songo tidak menyetujui alirannya, oleh karena itulah Syekh Siti Jenar dihukum mati th. 1506 M, dan dimakamkan di Anggaraksa alias Graksan, Cirebon sekarang ini.

Sebelum wafat, Syekh Siti Jenar sempat berpesan kepada para dewan wali/ Wai Songo bahwa “ Kelak pada suatu zaman akhir, kalau ada kerbo bule mata kucing ( orang Belanda ) naik dari laut, itulah tandanya musibah kepada anak cucu anda,” katanya, sedang kenyataannya Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dan banyak menyengsarakan rakyat Indonesia.

Syekh Siti Jenar mempunyai efek khusus yang kita anggap sebagai “insiden” diantara pemuka-pemuka Agama Islam pada abad ke 16 M, lambat laun ketika itu banyak orang-orang yang mengaji tasawuf/ hakiki, misalnya : perihal ilmu bedanya antara Kawula dan Gusti dan Tunggalnya Kawula dan Gusti.

Atas tuduhan Syekh Maulana Maghribi, bahwa Syekh Siti Jenar mengaku dirinya ALLAH, dan oleh Sunan kalijogo ditanyakan apakah benar tuduhan tersebut, beliau mengakuinya benar adanya, maka dewan wali dalam sidangnya sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi si tertuduh, dan Sekh Siti Jenar menerima putusan tersebut agar segera dilaksanakan, dan yang harus melaksanakan keputusan tersebut yaitu Sunan Kudus dengan keris Ki Kantanaga yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati.

Sebelum eksekusi berlangsung, terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan masyarakat karena memang disaksikan secara terbuka dihalaman masjid Agung Cirebon, dan dialog tersebut diantaranya sbb :

Menempelnya keris Ki Kantanaga ke jasad Syekh Siti Jenar, terdengar suara yang sangat keras seprti beradunya kedua besi yang sangat besar, lalu para Wali saling tersenyum, sambil berkata,” Masa ada ALLAH seperti besi ?”.
Syekh Siti Jenar menjawab,” Coba, tusuklah sekali lagi,”
Ketika tusukan kedua, Syekh Siti Jenar menghilang tidak ada ujud jasadnya.
Para Wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti syaitan,?.
Secepat kilat Syekh Siti Jenar menampakan diri lagi, sambil berkata, “ Coba tusuk sekali lagi?”
Ketika tusukan ketiga, Syekh Siti Jenar membujur tergolek di lantai masjid, dari lukanya keluar darah merah, dan para Wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti kambing.?
Syekh Siti Jenar bangun hidup kembali tanpa luka dan berkata,” Coba tusuk sekali lagi?”.
Kemudian pada tusukan keempat , Syekh Siti Jenar rebah, mati dan dari lukanya mengalir darah putih, seketika itu para wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti cacing!”,Lalu harus bagaimana mati saya menurut keinginan anda?”dan dijawab oleh seluruh Wali,” Biasa!”, seperti orang tidur badannya lemas, begitulah mati bagi seorang Insanul kamil,”
karena berkali-kali tusukan selalu mati, hidup, mati, hidup, maka, Syekh Siti Jenar berkata, “

Sesudah itu ditusuklah jasadnya dan wafatlah Syekh Siti Jenar seperti umumnya manusia, jasadnya mengecil sebesar kuncup bunga melati dan baunya semerbak mewangi bau harumnya melati ( Syekh Siti Jenar, wafat wajar dan tidak bunuh diri )

ref : Babad Cirebon, P. Sulaiman Sulendraningrat, ketua umum lembaga kebudayaan wil III Jabar, th 1974 ).

Ada juga beberapa buku tentang Syekh Siti Jenar yang menerangkan Bahwa Makamnya di bawah mimbar Imam masjid DEMAK . Sebagai referensi Bagi Pembaca ini cuplikan buku “Ajaran Makrifat Syekh Siti Jenar” oleh Muhammad Solikhin

Ilmu dalam perspektif sufi terbagi 4

1. ilmu Syari’at : ilmu yang berkenaan dengan kehidupan lahir di alam dunia ini, hukum2 yang disertai dengan akibat2 fisik, 2 ilmu batin : ilmu tentang sebab dan akibat ( kausalitas), 3. ilmu hikmah rohani (spiritual) : ilmu yang berkenaan dengan ruh, ilmu tentang pengenalan diri.melalui ilmu ini kita bisa sampai pada ilmu mengenal Allah(ma’rifatullah), 4 ilmu hakekat : ilmu tentang hakekat Allah, rahasia dibalik rahasia dengan pintu loncatan ruh al-idlafi yang berada dalam kedalaman hati nurani

Disini dapat disimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar Benar dan Salah Tergantung pandangan dari setiap orang dari tingkat(makom) Keimanan orang tersebut, Ilmunya Syech Siti Jenar adalah Ma’rifat (ilmu laduni tingkat tinggi) dan sama sekali bukan Syirik, Para Wali Songo memutuskan untuk mengadili Siti Jenar , bukan kok menyalahkan keyakinannya, melainkan jika Tingkat keyakinan Syech Siti Jenar yang begitu tinggi JIKA NANTI DI ANUT PARA MURID DAN ORANG LAIN akan banyak memelesetkan dan salah arah, karena secara umum keimanan  orang waktu itu masih banyak ditingkat syareat, jadi yang disalahkan para Wali Songo adalah Jangan2 muridnya nanti bisa terbelokkan arah iman (syirik) bukankah UMUM nya Iman kita berangkat dari Syareat, dengan Thorekot menuju Hakekat, terus ke Ma’rifat (disini perlu sangat difahami disertai GURU Spiritual) disini bisa di umpamakan Seorang Profesor mengajar anak TK (tidak cocok, banyak resiko meskipun sang professor benar, tapi anak TK bisa bingung dan salah arah) atau lebih utamanya bacalah, fahami dengan Khusnudhan dengan sang Guru Buku Ad-durrotunnafis (semoga Makom Ke Imanan anda meningkat) Amin

Allah berfirman!

Wamaa Kholaktul Jinna wal Insa illa liya’buduun

( Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia hanya untuk beribadah/ menyembah kepadaKu)

Perlu diketahui bahwasanya Jin seperti manusia, punya keluarga, punya agama, guru, dan juga punya ilmu dan sebagainya (hampir sama dengan manusia), Permasalahanya Dunianya Jin dan Manusia berbeda , Di alamnya Jin kebanyakan menganut system kerajaan dan banyak sekali kerajaannya , dan bukan republic spt Indonesia, saya sudah pernah ngomong panjang lebar mengenai jin dengan orang yang tahu persis dunia ghoib ini, bahkan bisa ketemu sang guru ini setiap saat, waktu itu sampai apapun saya tanyakan saya yakin guru dan orangtua saya (Sangat Dapat dipercaya), Kebanyakan bangsa Jin beragama Non Muslim , banyak Hindu dan Budha, dan Kafir. Tapi yang Muslim (Islam) juga ada sebagai MINORITAS saja, Nabi yang dianut Jin juga Nabi Muhammad SAW dari bangsa manusia, begitu juga Qiblatnya Masjidil Haram Ka’bah , kebanyakan yang Muslim Jin dari Timur Tengah sering berkunjung ke Indonesia untuk mencari perlindungan dari kejaran kerajaan Jin Non Muslim yang memeranginya, Kerajaan Jin Muslim kecil disbanding kerajaan Jin Non Muslim, di dekat Masjidil Haram sendiri ada Masjid yang namanya Masjid Jin (saya sendiri pernah ke sana) ternyata sering tutup, konon kata Mukimin yang ada disana dulunya ada segerombolan Jin Masuk ke Masjid ini untuk bersahadat dan masuk agama Islam Subhanalloh…, di Masjid dekat rumah saya juga sering dijumpai Jin yang lagi Mengaji di malam hari, Info yang saya dapat Jin sangat bagus memori otaknya sekali atau dua kali baca Al-Quran sudah bisa Hafal, bahkan banyak sekali yang sudah Khafid/Khafidhoh, Jin Juga banyak mencari Ilmu kema’rifatan ilmu ketauhitan kepada manusia, dengan acuan Nabi mereka juga dari bangsa manusia, saya dan guru juga sering Istighotsah dengan sekian banyak orang dan Jin muslim itu biasa selama difahami dengan betul, Jin juga banyak yang menyandang Kyai, Mursyid, ber Haji dll yang nggak setiap orang bisa menyandangnya, Subhanalloh…, Jadi antara Jin dan setan/iblis sangatlah beda bagaikan manusia dengan setan/iblis. Dunianya pun antara jin dan setan/iblis beda , diibaratkan satu dhira’ (20cm) menurut guru saya, sangking pandainya setan menyesatkan dan bisa masuk alamnya jin, dikira sebagian orang alam jin dan setan sama, tapi nyatanya nggak sama. Jin Muslim kebanyakan iman dan taqwa kpd Alloh SWT, cenderung jika berucap jujur, pergi ke masjid, sering berjamaah jika sholat, walaupun juga sering berjamaah dengan manusia. Subhanalloh….. bukankah Jin di zamanya Nabi Sulaiman juga banyak yg beriman (agama Tauhid) begitu juga di zamanya nabi-nabi yang lain, Jin berjalanya dengan terbang, usianya 300 th itu ibarat masih sangat muda , jika sudah tua jin gak bisa terbang lagi istilahnya hanya bisa ngesot, bahkan berdiam diri dan akhirnya pun Jin juga mati, Jadi Jin itu bukan matinya di hari Kiamat, di saat-saat tertentu jin juga bisa mati, sedangkan yang matinya di hari Kiamat adalah Iblis ( setan dengan bangsa Iblis), kami beritahukan juga bahwa di alamnya Jin tidak ada matahari jadi alamnya hampir sama dengan alam mimpi manusia (redup / senja) , anak-anak jin juga banyak, yang bayi tidak mbrangkang seperti bayinya manusia tapi meloncat loncat, semakin tambah usia loncatan jin semakin jauh, lama kelamaan bisa terbang, Manusia ataupun Jin bisa masuk dialamnya yang berbeda dengan kekuatan ilmu dari Alloh SWT, Laa khaula Walaa Quwwata Illa Billah, guru saya sendiri sering masuk kealam Jin untuk ketemu dengan Kyai Jin Muslim dan sebaliknya , manusia memang tidak boleh sering berinteraksi dengan Jin akan tetapi pada kondisi dorurot sebagai upaya menolong seseorang, ataupun urusan penting dapat diperbolehkan selama dalam aturan syareat islam , bahkan untuk upaya memperoleh keterangan sejarah zaman dulu seperti kerajaan wengker misal atau zaman Batoro Katong, banyak Kyai yang berwawancara dengan Jin untuk diambil keterangannya, dan tidak sedikit Kitab2 agama yang disedot ke alam jin di zaman sejarah dulu dan tentunya bisa disedot lagi ke alam manusia bagi mereka yang mempunyai ilmunya, dengan kemampuan tertentu sang Guru bisa berinteraksi dengan Jin Muslim dan bahkan memfoto gb jin tersebut (dalam artian wujud sebenarnya jin lembut dan lembut tidak bisa dilihat dan di foto ). Hidup di alam jin manusia juga akan merasa lapar dahaga , janganlah makan makanan atau minum di alam Jin karena tidak cocok dengan karakter sebagai manusia ,maka banyak Guru yang mengatakan ke muridnya jika lapar/haus di alam jin hendaknya berdoa dengan doa ini atau doa itu untuk berfungsi sebagai makan dan minum. Di alam jin jarak antara Negara alam dunia sangatlah dekat, jadi ibarat Ponorogo-Jogja hanya ditempuh kurang lebih 5 menit ( pada waktu itu kisah nyatanya naik bus nya jin dan di alamnya jin), bukan berarti Ponorogo-Bagdad lebih lama, bahkan lebih pendek , sebab di alamnya jin alam 6 dimensi (yang jauh jadi dekat bahkan sebaliknya) alat tempuhnya pun bisa terbang, naik mobil, bis , kereta api dll , perlu diketahui bahwa di alamnya jin Technologi nya jin diatas manusia. Menurut saya UFO yang misterius itu adalah kendaraanya jin dengan technologi tinggi. Wallohu A’lam, ada cerita menarik ada Kyai A pada waktu berkotbah di hari Jum,at tanpa sengaja mengatakan bahwa sebaik-baik imanya Jin adalah masih baik iman Manusia, keesokan harinya didapati anaknya Kyai A disunat/diKhitan oleh Jin, lantas Kyai A berkunjung ke Kyai B (ahli ghoib) untuk memahamkan apa yang sedang terjadi pada anaknya, lantas Kyai B berdialog dengan Jin yang notabene menyunatnya, ternyata Jin yang menyunatnya mengatakan sangat tersinggung dengan ucapan Kyai A pada waktu Khotbah Jum’at tsb, sedangkan banyak sekali Jin yang juga ikut berjamaah Jum’at, Subhanalloh….., Jin dan Manusia sama-sama makluk Alloh SWT yang lain adalah alam dan akalnya , sama-sama nanti di alam akhirat akan dihisab amalnya, maka dari itu semua kita sebagai manusia jangan gampang-gampang Shuudhan terhadap Jin dan Manusia yang mengetahui dunia Jin , jangan dikir-dikit mengucapkan musrik terhadap seseorang Kyai , bukankah Ilmu Ghoib juga berasal dari Alloh SWT untuk hambanya yang diridhoinNya seperti para para wali dan Nabinya dan orang-orang arif-billah, orang Ma’rifat, Kyai-kyai , Alim ulama dst. Tergantung dari Ridlo Alloh SWT. Yang paling penting dari kita semua segala sesuatu yang jika belum mengetahui faedahnya, maka carilah faedahnya , Alloh menciptakan sesuatu pasti ada faedahnya. Inilah cerita sedikit semoga ada manfaatnya untuk manusia khususnya, Semua Ilmu yg ada didunia semuanya berasal dari Alloh SWT, maka jika dikasih ilmu linuwih (lebih) harus bisa memanfaatkan dengan amanahNya baik pada pasisi Syareat, Hakekat, Maupun Ma’rifat .

Ternyata Islam Masuk ke Nusantara Ketika Rasulullah SAW Masih Hidup

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M. Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39). Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab. Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman. Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah. Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah

Sulthonul Auliya Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani

Karomah-karomah Sulthonul Auliya Syeikh Abdul

Qadir Al-Jilani

Syekh Abdur Qadir Jailani adalah adalah imam yang zuhud dari kalangan sufi. Beliau lahir tahun 470 H /1077 M di Baghdad dan mendirikan tariqat al-Qadiriyah. Diantara tulisan beliau antara lain kitab Al-Fathu Ar-Rabbani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haq dan Futuh Al-Ghaib. Tahun wafat beliau tercatat tahun 561 H bertepatan dengan 1166 M. Beliau adalah seorang yang shalih . Bila dirunut ke atas dari nasabnya, beliau masih keturunan dari Ali bin Abi Talib. Nama lengkap beliau adalah Abu Shalih Sayidi Abdul Qodir bin Musa bin Abdullah bin Yahya Az-zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahdhi bin Hasan al-Mutsana bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Jumlah karomah yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani banyak sekali, Syaikh Abil AbbasAhmad ibn Muhammadd ibn Ahmad al-Urasyi al-Jily: Pada suatu hari, aku telah menghadiri majlis asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan asy-Syaikh. Maka orang ramai yang hadir di majlis itu pun berlari tunggang langgang, ketakutan. Tetapi asy-Syaikh al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju asy-Syaikh dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, asy-Syaikh masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya. Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan asy-Syaikh dan ia telah seperti bicara dengan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani . Setelah itu, ular itu pun ghaib. Kami pun bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani tentang apa yang telah dipertuturkan oleh ular itu. Menurut beliau ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji wali-wali Allah yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani . Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majlis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majlis itu. Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun berkata, “Wahai angin, ambil kepala burung itu.” Seketika itu juga, burung itu telah jatuh ke atas majlis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya. Setelah melihat keadaan burung itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya. Kemudian asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah berkata, “Bismillaahirrahmaanirrahim.” Dengan serta-merta burung itu telah hidup kembali dan terus terbang dari tangan asy-Syaikh. Maka takjublah para hadirin di majlis itu karena melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkanNya melalui tangan asy-Syaikh. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah,seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh setengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Jilani, berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin. Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh. “Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.” Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang coba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan. Dan akhirnya, Datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya. Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.” Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan  kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya. Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?” Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh birahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala. Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani boleh melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.” Telah bercerita asy-Syaikh Abi ‘Umar ‘Uthman dan asy-Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Haqq al-Huraimy: Pada 3 hari bulan Safar, kami berada di sisi asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani Pada waktu itu, asy-Syaikh sedang mengambil wudu dan memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan solat dua rakaat, dia telah bertempik dengan tiba-tiba, dan telah melemparkan salah satu dari terompah-terompah itu dengan sekuat tenaga sampai tak nampak lagi oleh mata. Selepas itu, dia telah bertempik sekali lagi, lalu melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ, telah melihat dengan ketakjubannya, tetapi tidak ada seorang pun yang telah berani menanyakan maksud semua itu. Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk menziarahi asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilany. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) telah membawa hadiah-hadiah untuknya, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Apabila kami amat-amati, kami lihat terompah-terompah itu adalah terompah-terompah yang pernah dipakai oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pada satu masa dahulu. Kami pun bertanya kepada ahli-ahli kafilah itu, dari manakah datangnya sepasang terompah itu. Inilah cerita mereka: Pada 3 haribulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami telah diserang oleh satu kumpulan perompak. Mereka telah merampas kesemua barang-barang kami dan telah membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka. Kami pun berbincang sesama sendiri dan telah mencapai satu keputusan. Kami lalu menyeru asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami sudah selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah. Tiba-tiba, kami terdengar satu jeritan yang amat kuat, sehingga menggegarkan lembah itu dan kami lihat di udara ada satu benda yang sedang melayang dengan sangat laju sekali. Beberapa waktu kemudian, terdengar satu lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seumpama tadi yang sedang melayang ke arah yang sama. Selepas itu, kami telah melihat perompak-perompak itu berlari lintang-pukang dari tempat mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan itu dan telah meminta kami mengambil balik harta kami,karena mereka telah ditimpa satu kecelakaan. Kami pun pergi ke tempat itu. Kami lihat kedua orang pemimpin perompak itu telah mati. Di sisi mereka pula, ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu. Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam: Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar. Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku.Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak. Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang    manusia. Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu. Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang. Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ. Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya. Telah bercerita asy-Syaikh ‘Adi ibn Musafir al-Hakkar: Aku pernah berada di antara ribuan hadirin yang telah berkumpul untuk mendengar pengajian asy-Syaikh. Ketika asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani sedang berbicara, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Beberapa orang pun berlari meninggalkan tempat itu. Langit kala itu sedang diliputi awan hitam yang menandakan hujan akan terus turun dengan lebat. Aku melihat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani mendongak ke langit dan mengangkat tangannya serta berdoa, “Ya Robbi! Aku telah mengumpulkan manusia karenaMu, adakah kini Engkau akan menghalau mereka daripadaku?” Setelah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berdoa, hujan pun berhenti. Tidak setitik hujan yang jatuh ke atas kami, pada hal di sekeliling kami hujan masih terus turun dengan deras.Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, isteri-isteri asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah bertemu dengannya dan telah berkata, “Wahai suami kami yang terhormat, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan tanda kesedihan. Tidakkah kekanda menyimpan rasa belas kasihan terhadap anak lelaki kita, yang merupakan sebagian darah daging kekanda sendiri? Kami semua sedang dirundung kesedihan,namun kekanda masih juga meneruskan pekerjaan biasa kekanda, seolah-olah tiada sesuatu pun yang telah berlaku. Kekanda adalah pemimpin dan pelindung kami di dunia dan di akhirat. Tetapi jika hati kekanda telah menjadi keras sehingga  tiada lagi menyimpan rasa belas kasihan, bagaimana kami dapat bergantung kepada kekanda di Hari Pembalasan kelak?” Maka berkatalah asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Wahai isteri-isteriku yang tercinta! Janganlah kamu semua menyangka hatiku ini keras. Aku menyimpan rasa belas kasihan di hatiku terhadap seluruh makhluk, sampai terhadap orang-orang kafir dan juga terhadap anjing-anjing yang menggigitku. Aku berdoa kepada Allah agar anjing-anjing itu berhenti menggigit, bukanlah karena aku takut digigit, tetapi aku takut nanti manusia lain akan melontar anjing-anjing itu dengan batu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku mewarisi sifat belas kasihan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diutus Allah sebagai rahmat untuk sekalian alam?” Maka wanita-wanita itu telah berkata pula, “Kalau benar kekanda mempunyai rasa belas kasihan terhadap seluruh makhluk Allah, sampai kepada anjing-anjing yang menggigit kekanda, kenapa kekanda tidak menunjukkan rasa sedih atas kehilangan anak lelaki kita yang telah meninggal ini?” Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menjawab, “Wahai isteri-isteriku yang sedang berdukacita, kamu semua menangis karena kamu semua merasa telah berpisah daripada anak lelaki kita yang kamu semua sayangi. Tetapi aku sentiasa bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu semua telah melihat anak lelaki kita di dalam satu ilusi yang disebut dunia. Kini, dia telah meninggalkannya lalu berpindah ke satu tempat yang lain. Allah  telah berfirman (Surat al-adid, ayat 20):  “dan tiadaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi saja.” Memang dunia ini adalah satu ilusi, untuk mereka yang sedang terlena. Tetapi aku tidak terlena – aku melihat dan waspada. Aku telah melihat anak lelaki kita sedang berada di dalam bulatan masa, dan kini dia telah keluar darinya. Namun aku masih dapat melihatnya. Dia kini berada di sisiku. Dia sedang bermain-main di sekelilingku, sebagaimana yang pernah dia lakukan pada masa dahulu. Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat Kebenaran melalui mata hatinya, sama dengan yang dilihatnya masih hidup ataupun sudah mati, maka Kebenaran itu tetap tidak akan hilang.” Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berjalan-jalan dengan beberapa muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Oleh itu mereka merasa letih dan dahaga. Tiba-tiba, sekumpulan awan muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam air muncul di hadapan mereka. Mereka telah terpesona. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan, telah muncul dari celah awan di hadapan mereka dan kedengaranlah satu suara dari dalamnya yang telah berkata, “Wahai ‘Abdul Qadir, akulah Tuhanmu. Makan dan minumlah, karena pada hari ini, telah aku halalkan untuk engkau apa yang telah aku haramkan untuk orang-orang lain.” Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun melihat ke arah cahaya itu dan berkata, “Aku berlindung dengan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.” Tiba-tiba, cahaya, pohon kurma dan kolam itu semuanya hilang dari pandangan mata. Maka kelihatanlah Iblis di hadapan mereka dengan bentuk rupanya yang asli. Iblis bertanya, “Bagaimanakah engkau dapat mengetahui itu sebenarnya adalah aku?” Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah menjawab, “Syariat itu sudah sempurna, dan tidak akan berubah sampai Hari Kiamat. Allah tidak akan mengubah yang haram kepada yang halal, walaupun untuk orang-orang yang menjadi pilihanNya (waliNya).” Maka Iblis pun berkata lagi untuk menguji asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Aku telah mampu menipu 70 kaum daripada golongan as-salikin (yakni orang-orang yang menempuh jalan kerohanian) dengan cara ini. Ilmu yang engkau miliki lebih luas daripada ilmu mereka. Apakah hanya ini jumlah pengikutmu? Sudah sepatutnya semua penduduk bumi ini menjadi pengikutmu, karena ilmumu menyamai ilmu para nabi.” Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani menjawab, “Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, daripada engkau. Bukanlah karena ilmuku aku terselamat, tetapi karena rahmat daripada Allah, Pengatur sekelian alam.

SEJARAH WALI SONGO

ASMA’UL HUSNA

Penjelasan adanya WALISONGO / Sejarah WALISONGO

Karena di Tanah Jawa Pengaruh Hindu dari Kerajaan Majapahit sangat kuat waktu itu, timbul niat dari Sayyid Jumadil Qubro ( berasal dari Samarkhan dekat Bukhoro ( lahir 1349M ) ) niat Jumadil Qubro dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki) untuk melakukan kegiatan da’wah islam di pulau jawa maka lahirlah WALISONGO periode I berangkat dari Turki ke Pulau Jawa Th. 1404M anggota : 1. Maulana Malik Ibrahim dari Turki , wafat di gresik jatim Th. 1419M, 2. Maulana Ishak yang putra dari Jumadil Qubro , asal Samarkhan wafat di Jombang di jalan Garuda Dusun Tambakberas. 3. Maulana Jumadil Qubro dari Samarkhan, wafat di troloyo mojokerto 1465M. 4. Maulana Ahmad Al Maghrobiy (sunan geseng) dari Maroko afrika utara wafat di makamkan di pesantren Jati Anom Klaten Th. 1465M. 5. Maulana Malik Isroil dari Turki , wafat di Gunung santri Cilegon jawa barat Th. 1435M. 6. Maulana Muhammad Ali Akbar, ulama dari Persia (Iran) , wafat di Gunung santri Cilegon Th. 1435M. 7. Maulana Hasanuddin, dari Palestina Wafat di makamkan di area Masjid Banten lama Th. 1462M. 8. Maulana Alayuddin, dari Palestina , wafat di makamkan di area Masjid Banten Lama Th.1462M. 9. Syeh Subakir, ulama dari Persia (Iran) kembali ke negeri Persia Th. 1462 setelah selesai bertugas. WALISONGO  periode II Th. 1421M. anggota : 1. Sayyid Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel ) yang cucu dari sayyid Jumadil Qubro Troloyo, 2. Maula Iskhak (tetap), 3. Maulana Jumadil Qubro (tetap). 4. Maulana Muhammad Almaghibi (tetap). 5. Sayyid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus). 6. Sayyid Sarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) . 7. Maulana Hasanuddin (tetap) 8. Maulana Aliyuddin (tetap). 9. Syeh Subakir (tetap). WALISONGO periode III Th. 1463M. anggota : 1. Sunan Ampel (tetap). 2. Raden Paku (Sunan Giri) anaknya Maulana Ishak dengan ibu Dewi Sekardadu Blambangan. 3. Maulana Jumadil Qubro (tetap). 4. Maulana Muhammad Almagribi (tetap). 5. Sayid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) (tetap) . 6.Sayid Sarif Hidayatulloh (sunan Gunung Jati) (tetap). 7. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) beliau anak Sunan Ampel . 8. Raden Qosim (Sunan Derajad) beliau putra Sunan Ampel . 9. Raden Said (Sunan Kalijaga) anak adipati Wilatikta Tuban.  WALISONGO periode IV Th. 1466M. anggota: 1. Sayid Ali Rahmatulloh (sunan ampel) tetap. 2. Raden Paku (Ainul Yaqin) (Sunan Giri) tetap. 3. Raden Hasan (Raden Patah) menggantikan Sayid Jumadil Qubro. 4. Raden Umar Sa’id (sunan Muria) . 5. Sayid Ja’far Sodiq (sunan Kudus) tetap. 6. Fatkhullah khan atau Faletehan . beliau menggantikan ayahnya Sarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) yang sudah tua. 7. Raden Makdum Ibrahim (sunan bonang) tetap. 8. Maulana Alayuddin (sunan derajad) (tetap). 9. Raden Said (Sunan Kalijaga) tetap.   WALISONGO periode V Th. 1479M. anggota : 1. Syeh Siti Jenar (Syeh Lemah Abang) menggantikan Sayid Ali Rahmatulloh (sunan Ampel wafat 1478M). 2. Raden Paku (sunsn Giri) tetap. 3. Raden Patah (Raden Hasan) tetap. 4.  Raden Umar Said (Sunan Muria) tetap. 5. (Sunan Kudus) tetap. 6. Fathullah Khan atau Faletehan , tetap. 7. Sunan Bonang ,tetap . 8. Raden Qosim (Sunan Derajad) tetap. 9. Raden Said (Sunan Kalijaga) tetap.  Pada Masa WALISONGO periode V ini Syeh Siti Jenar Terpidana masalah Hakekat yang kurang umum akhirnya keanggotaan walisongo diganti oleh Ki Pandanarang (Sunan Bayat).      SEDANGKAN WALI SONGO YANG BANYAK DIKENAL (yang dikenal umum)  adalah seperti bawah ini :  1. Maulana Malik Ibrahim. 2. Sunan Ampel. 3. Sunan Bonang. 4. Sunan Giri. 5. Sunan Derajat. 6. Sunan Muria. 7. Sunan Kudus. 8. Sunan kalijaga. 9. Sunan Gunung Jati (walisongo2 ini hanya merupakan dari sekian banyak anggotaWalisongo yang terkenal saja menyandang walisongo). baiklah kita bahas WALISONGO yang cukup terkenal dan dikenal tersebut :

1. SUNAN BONANG

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

2.SUNAN AMPEL

Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang). Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3. SUNAN DERAJAD

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

4. SUNAN GIRI

Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

5. SUNAN GUNUNG JATI

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

6. SUNAN KALIJAGA

Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

7. SUNAN KUDUS

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

8. MAULANA MALIK IBRAHIM
(Wafat 1419)

Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk Mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

9. SUNAN MURIA

Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. “Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal. Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

Nur Muhammad

Nur Muhammad adalah “Awwallu Kholqillah” sebelum Allah membuat apapun yang dibuat pertama adalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad dibuatlah semuanya yang ada didunia , langit, malaikat, setan, Jin, Manusia, benda mati, benda hidup dan semuanya, sedang Nur Muhammad sendiri dari ZdatNya illahi .( Pemahaman HAL ini harus disertai oleh Guru Hakekat/Thorekat atau Mursyid biar tidak salah Faham ).Ada suatu pertanyaan “ Cari Nur Muhammad dalam air yang mengalir? “. Kali ini kita akan mencoba membahas bersama-sama pada bab ini. Dan perlu diketahui sebelum menjawab pertanyaan tersebut kata kuncinya harus dicari, jadi melihat permasalahan apapun kalau kita ingin mengetahui permasalahan harus tahu kata kuncinya. Baik itu didalam air atau udara sekalipun itu ada nur Muhammad yang ada. Berarti kata kuncinya “Muhammad kamu kuciptakan dari nur-KU dan semua makhluk yang ada baik itu air yang mengalir, itu kuciptakan dari nur-MU”. Kalau sudah tahu kata kuncinya berarti air mengalir itu ada nur Muhammad nya itu yang mana ? begini, dicitakan makhluk, makhluk diciptakan, makhluk dibuat oleh allah, air bisa mengalir. Udara lembut bisa kita serap dan kita hirup sampai jenisnya bermacam-macam yang ada dimuka bumi ini. Dan disitu ada nur Muhammad yang ada. Karena hakekatnya nur Muhammad itu adalah nur kehidupan (cahaya kehidupan). Jadi air tidak akan bisa bermanfaat, air tidaka akan bisa mengalir, udara tidak mungkin bisa dihirup, kalau tidak ada pencipta !. maka dari itu semua ada pencipta, kalau kita melihat air mengalir, udara yang kita hirup, ini ada yang menciptakan, ini kunci. Kalau kita tahu ada yang menciptakan berarti kita harus tahu dan kita hubungkan dengan kata kunci “kamu kuciptakan dari nurku dan semua yang kuciptkan semua itu asalnya dari nurmu”. Jadi nur Muhammad itu hakekatnya adalah nur kehidupan. Berarti semua semua tidak akan bisa bermanfaat, air tidak akan bisa mengalir, dan saat kita bisa melihat air mengalir kita ingat pencipta dan saat ingat pencipta, ingat kaalu sang pencipta menciptakan semua ini asalnya dari mana? Dan dari sinilah hati akan timbul. Oh inilah nur Muhammad dan didalam ilmu wahidiyah ini disebut dengan Bihaqiqotul Muhammadiyah. Itu hanya satu permasalahan kalau soalnya dirumitkan, cari nur Muhammad dqari udara yang kamu hirup? Cari nur Muhammad dari nasi yang kamu makan ? cari nur Muhammad dair semut yang berkembang biak ? carinur Muhammad dari bakteri yang tidak kasat mata ? ini akan lebih runyam. Jadi kata kuncinya adalah nur kehidupan. Dan semua itu tidaka ada kalau tidak ada asal atau bahan baku, sedangkan bahan baku itulah yang hanya bisa kita buktikantidak dengan akal dan tidak dengan ilmiahyang selama ini belum ada professor yang menyatakan adanya nur Muhammad kecuali hati dan iman yang bisa melakukan. Makanya orang ahli filsafat itu menemukan hanya dengan dasar akal yang kasat mata, tapi yang lain yang lebih halus tidak bisa kecuali dengan iman, makanya orang beriman itu lebih pandai daripada orang filsafat yang tidak iman, karena iman itu sudah yakin dan membuktikan suatu keyakinan dengan hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan akal, orang beriman sudah menyatakan. Disini kita akan mencoba membahas hakekat jenis air kehidupan itu dimana ada 2 jenis yaitu air jasmani yang selama ini kita kenal dengan H2O dan air rohani, tapi disini kita akan fokus pada bahasan air rohani yang memang selama ini belum pernah kita bahas. Sedangkan air kehidupan rohani itulah Allah memberikan sinyal pada umur, sinyal pada nafas, kalau orang tidak bernafas brarti tidak hidup atau mati,. Makanya kalau kita mencari nur Muhammad disegala sesuatu itu kuncinya orang itu harus bisa mengetrapkan istighrog Bihaqiqotul Muhammadiyah, sebab istigrogh ini macamnya ada 3:

1. istighrog Ahadiyah yaitu dalam bahasa tasawufnya fana, meleburkan diri dihadapan Allah.

2. istighrog Wahidiyah yaitu mengetrapkan dalam segala aspek kehidupan, gerak gerik kita atau perbuatan dan tidakan apa saja baik lahir maupun batin, dimanapun dan kapanpun saja, supaya dalam hati senantiasamerasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah Allah yang maha pencipta. Yaitu mengetrapkan dawuh “ Tiada daya dan kekuatan sedikitpun melainkan dengan titah Allah”.

3. istighrog Bihaqiqotul Muhammadiyah yaitu semua yang dipandang adanya semua wujud itu karena allah menciptakan dari nur Muhammad. Ini bagi orang awam hanya menelan dan yakin, tapi orang-orang yang yang berfikir dalam ini dicari pembuktian secara imaniah dan secara kitab dicari sehingga akalnya itu bisa menerima. Sebab dalam kenyataannyadalam kisah isro mi’roj itu sendiri banyak kalangan ahli filsafat menolak dengan adnya kisah tersebut, karena hanya berdasarkan akal tanpa berdasarkan iman, karena bagaimana rosululloh bisa naik kelangit 7 sedangkan disana hampa udara dan belum sampai disana sudah mati. Ini kalau berdasarkan akal , sedang akal sendiri terkadang gak mampu menempuh semua ilmu ghoib dari Allah, hanya di makom hakekat dan ma’rifat kita bisa memahaminya dengan iman yang tulus.

Jadi kalau kita mencari nur Muhammad kuncinya yaitu orang itu harus bisa mengetrapkan istighrog Bihaqiqotul Muhammadiyah, kalau sudah bisa mengetrapkan kita melhat air mengalir otomatis hati langsung kontak, air disebut mengalir karena ada wujud bentuk benda, sedangkan bentuk benda inilah yang disebut ciptaan, oh berarti ini adalah bahan bakunya nur Muhammad, makanya air bisa mengalir dan bergerak, itu ada nur Muhammad dan semua itu adalah satu kesatuan yang kompleks dan menjadi sebuah kebutuhan hidup. Maka dari itu orang beriman selamanya tidak akan meninggalkan nur Muhammad karena apabila meninggalkan nur Muhammad akal orang itu akan menolak dan ada ada banyak bisikan hati “kalau begitu air itu diciptakan oleh Allah darimana dan apa bahan bakunya? Kok ada bumi bahan bakunya apa ? terus lebih dalam lagi nanti pada waktu manusia mati yang baik dibawa kesurga dan yang berdosan dibawa ke neraka berarti surga dan neraka itu diciptakan Allah dari apa ? dan pertanyaan ini tidak akan habis-habis karena dalam teori itu harus menunjukkan asal muasalnya. Dan sedangkan dari pertanyaan diatas pasti tidak ada satu orangpun bisa mengetahui secara jelas dan mutlak. Sebab namaya ciptaan itu harus menunjukkan sebabnya, dan dari hukum sebab akibat yang sangat besar dan paling agung inilah adalah nur Muhammad. Jadi terciptanya jagad dan seisinya ini sebab akibat yang paling agung adalah nur Muhammad dan yang dibuktikan bukan dengan akal dan pikiran melainkan hanya dengan hati yang bersih dan iman yang kuat.

Nur Muhammad ini sendiri adalah bentuk nur ilahiyah Cuma dalam wujud dunia. Sebab Allah tidak akan mungkin berkumpul dengan makhluknya sendiri. Jangankan Allah bekumpul dengan makhluknya tidak bisa bahkan sesama makhluknya saja tidak bisa sebagai contoh kita ambil golongan darah apabila golongan darah itu berbeda maka  darah itu tidak akan bisa bercampur dan akan menggumpal dan malah menyebabkan penyakit. Disinilah Allah menciptakan yang disebut nur Muhammad. Sedangkan nur Muhammad bukan seperti ciptaan manusia yang memerlukan proses. Dengan hanya mengucap kun fayakun semua tidak mungkin tidak terjadi karena Allah maha kuasa, bahkan tanpa nur Muhammad dan makhlukpun semua dimata Allah tidak ada apa-apanya bagi-NYA.

Tetapi ini adalah didikan dari yang maha kuasa untuk mengenal dengan teori-teori itu dengan matang, dididik dengan keadaan alam, sekarang kalau kita perhatikan mengapa daun nyiur melambai-lambai ? sebab disitu adanya udara, mengapa udara saja bisa menimbulkna gerak ? sedangkan udara itu lembut ? karena ada tekanan udara dari tinggi menuju kerendah akhirnya menjadi yang disebut angina. Mengapa kok ada angin ? disitu banyak pertanyaan yang akal yakin tidak akan bisa menjangkaudan akhirnya ada satu titik kekuatan yang besar yaitu “Nur Muhammad” karena adanya pencipta berarti adanya nur Muhammad yang dicipta. Dan dari situ semua jadi bahan baku yang dicipta.

Jadi pada kesimpulannya Nur Muhammad itu adalah kekuasaan Allah sendiri. Terus bagaimana mengetrapkan istighrog Bihaqiqotul Muhammadiyah sedangkan belum banyak tahu? Dan disinilah kita harus banyak-banyak cinta kepada rosulullloh dengan banyak membaca sholawat dimanapun dan kapanpun atau setidak-tidaknya langsung membaca intinya sholawat dengan bacaan “Yaa Sayyidii Yaa Rosululloh atau Shollalloh ‘Ala Muhammad”. Insya allah ditunjukkan apa hakekat dari nur Muhammad itu sendiri dengan bisa merasakan kehadirannya sebagai penunjuk arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Semoga dapat bermanfaat dan dengan pemahaman yg betul yang benar Amin…

Dalam Thorikoh Syeh Abdul Qadir Jailani (Rahasia Sufi Agung) dikemukakan Bahwasanya Jabir r.a bertanya kepada Rasulullah SAW. “Demi kehormatan ayah dan ibuku! Beritahukan kepadaku tentang awal mula penciptaan Tuhan sebelum semua benda2 diciptakan!”, Jawab Rosulullah SAW, “Wahai Jabir! Sesungguhnya sejak awal Allah telah menciptakan nur atau cahaya Nabimu (Nur Muhammad) dari cahayaNya sebelum diciptakan yang lainya.” Jadi Nabi besar Muhammad SAW adalah cahaya dan hakikat dari sifat Allah , yaitu Arrohman . Yang Maha Pengasih terhadap hambaNya. Firman Allah : di Surat (al-Maidah :15) “Meneragkan Bahwasanya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.” (maka dari itu semoga anda memahami dengan benar tentang Nur Muhammad)

BERITA PENTING UNTUK UMMAT ISLAM DISELURUH DUNIA :

Surat Ini Datangnya dari Syeckh Achmad di Saudi Arabia.

” AKU BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLAH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW, WASIAT UNTUK SELURUH UMMAT ISLAM “

Dari Syeckh Achmad Seorang Penjaga Makam Rasulullah di Madinah yaitu Masjid Nabawi Saudi Arabia.

SYECKH ACHMAD :

“Pada malam tatkala hamba membaca Al Quran di makam Rasulullah, dan hamba sampai tertidur, lalu hamba bermimpi. Didalam mimpi hamba bertemu dengan Rasulullah SAW, dan beliau berkata, “didalam 60.000 orang yang meninggal dunia, diantara bilangan itu tidak ada seorangpun yang mati beriman, dikarenakan:

1. Seorang istri tidak lagi mendengar kata-kata suaminya.

2. Orang yang kaya yang mampu, tidak lagi melambangkan atau menimbangkan rasa belas kasih kepada orang-orang miskin.

3. Sudah banyak yang tidak berzakat, tidak berpuasa, tidak sholat dan tidak menunaikan ibadah haji, padahal mereka-mereka ini mampu melaksanakan.

Oleh sebab itu wahai Syechk Achmad engkau beritahukan kepada semua ummat manusia di dunia supaya berbuat kebajikan dan menyembah kepada Allah SWT.”

Demikian pesan Rasulullah kepada hamba, Maka berdasarkan pesan Rasulullah tersebut dan oleh karenanya hamba berpesan kepada segenap ummat Islam di dunia :

> a. Ber Shalawatlah kepada Nabi Besar kita Muhammad SAW.

> b. Janganlah bermalas-malasan untuk mengerjakan sholat 5 (lima) waktu.

> c. Ber Shadaqoh dan berzakatlah dengan segera, santuni anak-anak yatim piatu.

> d. Berpuasalah di bulan ramadhan serta kalau mampu, tunaikan segera ibadah haji.

Perhatian: Bagi siapa saja yang membaca surat ini hendaklah menyalin/mengcopynya untuk disampaikan kepada orang-orang lain yang beriman kepada hari penghabisan/kiamat.

Hari kiamat akan segera tiba dan batu bintang akan terbit, Al’Quran akan hilang dan matahari akan dekat diatas kepala, saat itulah manusia akan panik. Itulah akibat dari kelakuan mereka yang selalu menuruti hawa nafsu dalam jiwa

Di Zaman Apa Kita Berada

Sesungguhnya Allah mengatur alam ini dengan suatu pengaturan yang rapi dan tersusun dan sudah dalam ketentuanNya. Penciptaan alam ini ada mulanya dan ada akhirnya dengan cara dan masa yang telah ditentukan-Nya. Kita sebagai makhluk hendaknya menyadari tentang hakikat ini, dengan merenung hikmah dan pengajaran disebaliknya agar dapat bertindak tepat sesuai dengan kehendak Allah.

Oleh karena itu senantiasa ada peringatan dari Rasulullah SAW untuk umatnya agar menyadari di zaman apa dia berada dan bagaimana dia harus bertindak demi menyelamatkan Iman dan Islamnya.

Rasulullah SAW bersabda :

“Telah berlaku zaman kenabian keatas kamu, maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkat zaman itu. Kemudian berlakulah zaman khalifah yang berjalan sepertimana zaman kenabian. Maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya. Kemudian berlakulah zaman pemerintahan yang menggigit. Berlaku zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya juga, kemudian berlakulah zaman pemerintahan diktator (zaman penindasan dan penzaliman), dan berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlaku pula zaman khalifah yang berjalan diatas cara hidup zaman Kenabian” [H.R. Imam Ahmad, Bazzar dan Attabrani dari Abu Huzaifah Al-Yamani]

Hadits diatas jelas menunjukkan bahwa Umat Rasulullah SAW akan menempuh 4 zaman secara bergilir-gilir sebelum dunia kiamat yakni : Zaman Kenabian (Nubuwwah) dan rahmatZaman Khulafaurrasyidin dan rahmatZaman pemerintahan yang menggigit (kerajaan-kerajaan Islam)Zaman fitnah (kerusakan) dan kegelapanZaman Khalifah atau Ummah kedua yang berjalan diatas cara hidup zaman kenabian yakni zaman pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa.

Zaman Nubuwwah (Kenabian) dan Zaman Khulafaurrasyidin

Zaman ini adalah zaman pemerintahan di bawah Rasulullah dan zaman pemerintahan di bawah khalifah 4 (Sayyidina Abu Bakar as Siddiq, Sayyidina Umar al Faruq, Sayyidina Utsman bin Affan, dan Sayyidina Ali). Dua zaman pertama ini mempunyai banyak kesamaan, dan dikenal juga sebagai Zaman Ummah Pertama.

Iman umat Islam ketika itu sangat kukuh. Menyebut nama Allah saja mampu menggetarkan hati mereka. Cinta dan takutnya kepada Allah tergambar pada setiap perkataan dan perbuatan mereka. Secara umum ciri-ciri zaman ummah pertama ini dapat diketahui sebagai berikut :

  1. Ibadah mereka sangat banyak. Shalat, puasa, zikri dan wirid susah ditandingi banyak dan khusyuknya.
  2. Ukhuwah dan kasih sayang sangat padu, setiap orang mencintai saudaranya seperti mencintai saudara sendiri.
  3. Jihad dan mati syahid menjadi idaman dan cita-cita. Mereka akan sangat merasa dukacita jika tidak diizinkan untuk pergi ke medan jihad.
  4. Akhlak menjadi perhiasan diri, mereka mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada mereka.
  5. Masyarakat dan negara Islam dapat dibangun sehingga layak digelar sebagai negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah.
  6. Tamaddun dan pembangunan rohani mencapai zaman puncaknya.
  7. Islam berhasil menaklukkan dua imperium besar dunia yang sedang berkuasa saat itu (kerajaan Romawi dan Persia) untuk kemudian memayungi ¾ dunia.

Zaman Pemerintah Yang Mengigit

Zaman berlaku setelah khalifah 4 (Khulafaurrasyidin), dan berakhir setelah jatuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Pada zaman ini pemerintahan Islam masih wujud, namun sangat sedikit pemimpin yang benar-benar berhasil. Di antara pemerintah yang benar-benar berhasil adalah:

  • Sultan Muhammad al Fateh, yang berhasil mewujudkan janji Rasulullah untuk merebut kota Konstantinopel (sekarang Istanbul).
  • Sultan Salahuddin al Ayyubi, yang berhasil menghentikan perang salib (crusader)

Zaman Fitnah atau Zaman Kerusakan

Zaman ini diawali dengan jatuhnya kekhalifahan Islam terakhir, yaitu kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Zaman ini masih berlaku sampai dengan ke hari ini.

Zaman ini merupakan zaman kerusakan dan kegelapan. Pada zaman ini umat Islam jatuh kedalam jurang kehinaan yang berkepanjangan, yang merupakan akibat dari kelalaian dan angkara murka yang terjadi di dunia Islam, sehingga Allah biarkan merka. Hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa Allah hanya akan menjadi pembela kepada orang-orang bertaqwa.

Ciri-ciri zaman fitnah ini adalah :

  1. Negara Islam satu persatu mulai jatuh dan dijajah oleh orang kafir.
  2. Akidah umat Islam pada saat itu sangat rapuh, ada diantaranya Islam di waktu pagi dan kafir di waktu petang
  3. Ibadah sangat lemah, shalat, puasa dan membaca Al-Qur’an tidak lagi diamalkan secara bersungguh-sungguh atau bahkan diamalkan sama sekali.
  4. Ukhuwah sesama Islam sangat lemah sehingga terjadi peperangan dan pembunuhan sesama umat Islam.
  5. Orang kaya sangat kikir dan pelit, manakala orang miskin tidak sabar dan hasad dengki.
  6. Penyakit cinta dunia dan takut mati sangat tebal dan mewabah dalam hati umat Islam.
  7. Kriminalitas dan kemunkaran yang terjadi dalam masyarakat Islam hampir tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di kalangan masyarakat yang bukan Islam.
  8. Akhlak umat Islam sangat lemah dengan berleluasanya hasad dengki, umpat mengumpat, tuduh menuduh, caci-mencaci dan saling mengkafirkan sesama umat Islam.
  9. Wanita-wanita Islam telah dicabut rasa malunya dengan bertingkah laku tidak senonoh, menampakkan aurat di depan umum, menari dan menyanyi tanpa menjaga harga diri.
  10. Umat Islam terhina di seluruh aspek kehidupan. Politik, ekonomi, pendidikan, pengobatan, pertanian, dan lain-lain, sehingga umat Islam terpaksa bergantung pada sistem kufur dan paham-paham (isme) buatan manusia.
  11. Sedikit demi sedikit cara hidup umat Islam telah mengikuti cara hidup orang-orang Yahudi dan Nasrani.
  12. Terjadi gejala-gejala buruk dan keji di tengah-tengah masyarakat Islam seperti narkoba, homoseks, lesbian, dan lain-lain.

Namun kemunkaran yang sedang terjadi di zaman fitnah ini tidak melemahkan keyakinan dan semangat perjuangan segolongan manusoa yang tetap pendiriannya. Mereka bukan saja mampu mempertahankan identitas Islam di kalangan mereka, bahkan mereka gigih berjuang untuk memperbaiki masyarakat. Inilah golongan-golongan yang lemah tetapi mempunyai keimanan dan keyakinan yang kuat dan kukuh serta perjuangan yang padu.

Rasulullah SAW bersabda :

“Senantiasa ada di kalangan umatku satu thoifah yang akan menzahirkan kebenaran dan tidak dapat dibinasakan oleh orang-orang yang tidak suka disisi mereka sampailah hari kiamat”

Namun untuk menghidupkan suasana Islam di tengah-tengah kerusakan dan kegelapan zaman zaman fitnah ini bukanlah suatu kerja yang mudah. Thoifah-thoifah islamiyah ini senantiasa diuji dan ditentang dengan berbagai macam fitnah dan ancaman. Tepat sekali sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa Islam akan kembali asing.

Namun walaupun begitu, Islam akan kembali kuat dan memusnahkan segala bentuk kekufuran sebagaimana Rasulullah dulu berhasil melakukannya yaitu dengan jalan berdakwah dan mendidik hati manusia. Inilah langkah-langkah awal menuju zaman Imam Mahdi dan Nabi Isa yang merupakan peringkat zaman terakhir yang akan dialami umat Islam sebelum hari kiamat, setelah sekian lama umat Islam mengalami zaman fitnah.

Zaman Khalifah Akhir Zaman Atau Zaman Ummah Kedua

Zaman Khalifah kedua ini adalah zaman pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa. Zaman ini diawali dengan munculnya Imam Mahdi, kemudian disusul munculnya nabi Isa a.s yang akan mengalahkan Dajjal. Zaman ini berakhir ketika seluruh orang Islam di muka bumi diwafatkan, yang kemudian akan dilanjutkan dengan kiamat besar.

Di zaman ini Islam akan kembali lagi ke zaman kegemilangan dan keemasannya seperti di zaman Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Islam dapat menguasai dunia dan kembali menjadi penguasa sejagat.
Rasulullah SAW bersabda :

“Sebelum hari kiamat datang pastilah Islam itu bangun kembali walaupun antara mulanya Islam bangun dan mulanya kiamat hanya sekedar masa memerah susu. Zaman ini berlaku selama 40 tahun dan barulah dunia ini akan dibinasakan (kiamat) oleh Allah”

Kebangkitan Islam zaman ini akan sampai kepada puncaknya apabila berpadunya ketinggian kerohanian umat Islam dengan kecanggihan teknologi di bawah dua pemimpin besar umat Islam yaitu Imam Mahdi dan Nabi Isa.

Ciri-ciri zaman ini :

  1. Islam dapat mencapai keagungannya kembali seperti yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu.
  2. Dunia seluruhnya akan kembali aman dan damai, keadilan akan kembali ditengakkan setelah sekian lama dipenuhi dengan huru-hara dan kezaliman.
  3. Hati orang-orang miskin dan kaya dipenuhi dengan sifat redha dan kanaah sehingga tidak seorangpun yang mau menerima sedekah.
  4. Harta-harta yaang melimpah ruah akan dibagi-bagikan dengan adil dan merata.
  5. Umat Islam hidup dengan penuh kasih sayang dan cinta-mencintai satu sama lain.
  6. Aqidah, ibadah dan seluruh aspek kehidupan masyarakat Islam berjalan sepenuhnya di atas landasan syari’at Nabi Muhammad SAW.
  7. Segala fitnah dan maksiat, riba, zina minuman keras dan lain-lain kekufuran berhasil diperangi dan dimusnahkan.

Sebagai kesimpulan akhir : Manusia saat zaman sekarang ini haruslah lebih dan lebih berhati-hati lagi untuk berbuat, ingat  kita di zaman yang terburuk imanya dibandingkan dengan 3 zaman yang lain, selalu jaga syareat, menambah ilmu dengan selalu Tholibul Ilmi selama masih hidup, menempuh hakekat, ngaji urip, berdoa , mohon ridho dan diridhoi olehNya.  Walaupun kita di zaman fitnah dan rusak , Insya Allah kita digolongkan orang yang selamat dunia akhirat. Amin ya robbal ‘aalamiin.

ALAM KUBUR : (upaya ikhtiar bahagia di alam Kubur)

Alam Kubur adalah alam yang harus dilalui setiap manusia umum  setelah meninggal dunia di alam kubur manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya di dunia , ini diaplikasikan dengan harus menjawab pertanyaan2 dari malaikat Mungkar dan Nakir yang ditugaskan oleh Alloh SWT. Untuk menanyai manusia dialam kubur. Di alam kubur si dholim akan disiksa sebab salah menjawab pertanyaan2 dari malaikat tadi, lama penyiksaan di alam kubur 1 hari sebanding dengan lamanya waktu di dunia 70000 hari. Untuk orang beriman bisa selamat dan juga  ada yang harus masih disiksa jika ada pertanyaan yg salah,  siksa kubur kebanyakan untuk orang islam adalah keteledoran kita menangani masalah air kencing (bauli) , kencing tanpa dibasuh dan di suci mengakibatkan kita kena siksa kubur. Untuk itu Alim ‘Ulama menyerukan untuk orang muslim selain berhati2 di dunia masalah air kencing juga disunahkan kita sholat Kafarotul Bauli (Kafaroh dosa kencing) untuk menebus jikalau ada dosa kencing selama kita hidup di dunia , Sholat ini dilaksanakan sehabis Sholat Dhuha, banyaknya rekaat 2, dan satu salam, pelaksanaannya untuk rokaat ke1 bacaanya adalah Alfatehah 1x , dan surat Alkhaushar 7x, untuk rokaat ke2 membaca Alfatehah 1x, dan Surat Al-Ikhlas 7x, lantas salam selesai, melaksanakanya sebanyak, banyaknya, bisa mingguan, bahkan sekali seumur hidup dengan pelaksanaan Khusuk sholatnya. Untuk penghuni kubur yang benar2 Alim, Iman islam dan ikhsan, setelah bebas dari pertanyaan Mungkar Nakir, sudah bebas dari hokum kubur, si Hamba Islam akan diberikan kenikmatan hidup dikubur bagaikan di alam Kebun yang penuh dengan rizki dan kenikmatan, bahkan untuk kalangan makom tertentu Arifbillah/ Wali/ Kamilul kamil/ kyai Ma’rifat  dan lainya akan mendapatkan suatu kebebasan tertentu yang berupa sirr, Rahmat dari Alloh SWT, yang basa jawanya diUmbar oleh Alloh SWT untuk sang kekasihNya. Wallahu a’lam. Lisence Copy : Al-Masail Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa timur, indonesia

MARTABAT TUJUH ( 7 Alam Kejadian Hak Allah SWT)

Pada garis besarnya martabat 7 adalah : Asal Kejadian Semua yang ada dan kajadian manusia sesungguhnya dan sesuai dengan Firman Allah SWT “ Inna Lillahi wa inna ilaihi rooji’uun” sesungguhnya kami milikMu dan kembalilah semuanya kepada Allah, Pada hakekatnya : semuanya yang ada didunia ini Allahlah yang mempunyai termasuk manusia dan akhirnya kembalilah semuanya ke yang mempunyai yaitu Allah SWT, manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, dan ibadah itu sendiri bermajemuk bentuknya , trik agar keselamatan kita tergaransi, daftarlah  kegiatan dalam sehari penuh mulai subuh (Sholat, kerja, makan, minum, istirahat, senda gurau, melihat, mendengar, dan lain-lain) niatkan semua kegiatan itu dengan Niat kegiatan karena Allah, belajarlah pelan2 dan yang penting hatinya harus ikhlas, kerdilkan nafsu2, senang dengan tulus kpd Allah , mohonkan RidhoNya untuk memulai kegiatan tsb, perbanyak dzikir karena Dzikir sarana stabilisator iman (bukankah iman manusia naik-turun) Dzikir dengan Lisan kemudian susul ke Dzikir dengan hati. Insa Allah Gusti Allah Ngijabahi, Meridhoi Amin…………, (catatan : Jikalau dalam suatu kegiatan anda terlupa Niat, sudah separuh jalan , maka detik itu juga niat dengan : Awwalullah wa Akhirullah), Wallahu A’lam tahukah anda bahwa setiap manusia mempunyai Ruh , Ruh pada Awwal Alam dasarnya patuh kepada Allah, sesuai dengan alamnya Ruh akhirnya diberi wadah yaitu Tubuh Manusia, sehingga banyak yang terlena , pandanganya dengan dunia melulu, nafsunya dibiarkan terus berkelana sehingga Ruh lupa asalnya yang dulu patuh jadi tidak patuh, tempat ujian bagi Ruh manusia adalah dialam dunia ini, jika selamat Ruh akan taubat dan kembali ke Allah SWT sesuai dengan Ruh awwal alam yaitu patuh kepada Allah (membawa iman, islam dan ikhsan (Khusnul Khotimah)). Inilah penjelasan dari martabat tujuh tersebut :

  1. Alam AHDAH : Alam Lahud : dimana belum ada Sifat Allah, belum ada Asma Allah, belum ada Af’aal (ciptaan) Allah, belum ada apa2, istilahnya LA TAKYIN, zat ul haki, Zat yang hak , masa TajallikanNya Dirinya Allah SWT dari suatu peringkat. (Qul huallohu Ahad)
  2. Alam WAHDAH : proses pentajalianNya Dirinya diperingkat kedua LATAKYIN SANI, istilah lain bulan sabit nyata atau juga noktah mutlak juga disebut adanya awal permulaan. (Allahu Shomad). Disini Allah sudah mempunyai Sifat, namun Sifatnya masih berbentuk batin belum nyata , sudah wujud, hak dan   ada, tetapi tidak nyata, terkumpulah Zat Mutlak dan Sifat Allah SWT. Belum nyata di dalam nyata keadaanya ROH IDHOFI.
  3. Alam WAHDIAH: Empunya Diri pada Diri sebagai rahasia manusia, mentajallikan Dirinya dengan Asma’, yaitu martabat nama yaitu keadaan yang sudah terhimpun lagi bercerai-berai  yaitu dengan istilah “Hakikat Insani” yaitu pada (Lam Yaalid) dengan sifat KODHAM DAN BAQA’ (dahulu dan kekal), Sifat batin dan Asma’ batin, manusia sudah ditentukan bangsanya masing-masing, akan tetapi belum lahir masih belum zahir masih  didalam Ainul Sabithaah, yaitu masih dalam rahasia ilmu dan zat  Allah SWT. Ibarat Ruh masih didalam Ruh, ada dan nyata tapi tidak nyata ( bingung ya…) tingkatkan pola faham dengan Dzikir ( Allah Jalla jalaalah, YA LATIEF, Hu Alloh)
  4. Alam RUH : Diri Empunya mengolahkan diriNya untuk membentuk suatu batang tubuh halus yang dinamakan Ruh, tubuh ini merupakan tubuh batin hakikinya manusia , dan batin sudah nyata Zatnya, Sifat dan Af’alnya nyata dan  lahir. Juga zahir, tetapi masih dalam ilmu hak Allah, tubuh ini dinamakan “Jisim Lathief” batang tubuh yang halus-halus , sempurna secara hak,  (Walam Yuulad) . berdirilah ia dengan tajalli Allah SWT dan hiduplah ia untuk selama-lamanya. Inilah yang disebut Tubuh Hakekat Insan yang mempunyai awalnya awal insan, maka dari itu di alam ini sebetulnya kita sudah setuju  untuk menanggung amanah dari Allah SWT dan inilah yang sebenarnya dinamakan Diri Nyata Hak Rahasia Allah di dalam Diri manusia.  (udah faham .. belum cari dan fahami dengan hak).
  5. Alam MISAL : Proses pentajalian Diri Empunya dalam Rahasia diri manusia, unsur rohani diri rahasia Allah atau menyatakan diriNya dalam melalui rahasia diri RahasiaNya  yang terkandung oleh bapak . (fahami dengan benar). Diri rahasia Allah belum tercantum dengan kebendaan, Alam Misal ini berada di Alam Malakut, peralihan dari alam arwah menuju alam nasut, Diri rahasia Allah Wujud Allah mulai Ditajallikan kepada ubun-ubun bapak, yaitu pemindahan dari alam roh kea lam bapak (alam misal), pewujudan Allah pada martabat ini belum zahir tapi Nyata dalam tidak Nyata, (Walam Yakullahuu), tajalli dalam surat al ikhlas keadanya tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya wadi atau mani yang bersekutu antara diri rahasia batin (roh) dalam tubuh kasar hakiki yan dinamakan rahim ibu, maka terbentuklah Maknikam ketika berlakunya persetubuhan bapak dan ibu . Tubuh rahasia pada masa ini hidup dalam rupa yang sempurna secara rahasia dan tidak binasa tetapi belum zahir. Dan dia akan terus hidup tidak mengenal mati secara rahasia Allah.
  6. Alam IJSAN : setelah rahasia diri Allah pada Alam Misal yang dikandung oleh bapak (Adam) , maka secara rahasia pindak ke mani bapak dilanjutkan ke rahim ibu, dan hal inilah yang disebut Alam Ijsan, batang Diri Rahasia Allah telah di kamilkan dengan diri manusia maka ala mini disebut juga alam martabat “insanulkamil”  di zahirnya tubuh kedua2 nya badan nmenjadi satu ruh dan jasmani, (Kuffuan) setelah sesungguhnya martabat baru yaitu anak bayi dilahirkan adalah yang paling suci yaitu “kamillulkamil” dan nyawapun dimasukkan ke dalam tubuh manusia, maka Diri Rahasia Allah telah menjadi “kamillulkamil” dilahirkan dari perut sang ibu.
  7. Alam INSAN : terdapat pada (Ahad) yaitu “satu” , maka berkumpullah semua proses pengujudan dan pernyataan diri rahasia Allah SWT, didalam tubuh badan insan yang mulai bernafas karena nyawa sudah ada dan dilahirkan ke alam dunia atau alam maya yang fana ini . Maka pada alam insan merupakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajalian diri rahasia Allah, dan pengumpulan pula alam-alam pentajalian diri Allah SWT dari martabat satu dengan martabat yang lainya.sampai kea lam insan. Kisah sang insan “manusia” setelah pada alam insan ini, maka mulailah banyak tugas yang harus diselesaikan sesuai waktu manusia masih di alam ruh yang menanggung amanah dari Allah SWT. Mulailah manusia menjalani proses pengembalian diri Rahasia Allah tadi kepada yang mempunyai yaitu Tuan Empunya Diri dan penyerahan kembali rahasia Allah SWT, ini hendaknya , maka itu di alam insan ini haruslah kita tunduk kepada Empunya mengenai amanahnya diantaranya (Amal ma’ruf Nahi Mungkar) , laksanakanlah syareat Islam, dalami ilmu Hakekat sampailah pada Ma’rifat sehingga dalam proses pengembalian ke diri Rahasia Allah berjalan dengan sempurna.

Nafsu, Syaitan, Tipu Dunia VS Hati Nurani (Nur Kebenaran)

Pada intinya jikalau mengetahui yang sebenarnya Manusia hidup (hati nurani=kebenaran) didunia ini akan jarang tertawa ,mereka akan sering termenung dan menangis karena sangat banyaknya musuh dan terus berperang melawan hawa nafsu, saitan yang akan dipertanggung jawabkan manusia sampai akhirat kelak , musuh luar yang menyesatkan manusia ialah syaitan, iblis,godaan dunia sedang musuh di dalam tubuh manusia adalah Nafsu yang  turut mendorong hamba Allah melakukan maksiat dan menghalang daripada menjalankan urusan ibadat dan urusan kebenaran. Malah, nafsulah faktor utamanya. Nafsu dikatakan kerjasama dan  bersaudara dengan syaitan, kerjasama dengan tipu daya dunia dengan  bekerjasama atau berasingan, kedua-duanya membawa kecelakaan kepada manusia. Sebagaimana syaitan, nafsu juga merupakan musuh yang amat sukar diperangi.  Antara sebab-sebabnya: Nafsu itu merupakan musuh dalam selimut, yakni ia beroperasi dalam diri manusia; Nafsu juga merupakan musang berbulu ayam, yakni ia menyamar sebagai kawan. Dengan keadaan yang demikian,  nafsu berpeluang mempengaruhi manusia melakukan kejahatan dan kemungkaran. Puncak awal bagi setiap fitnah, keaiban, kehinaan dan kecelakaan yang menimpa manusia adalah nafsunya sendiri. Ada kalanya nafsu itu bersekutu dan saling membantu dengan pengaruh-pengaruh lain, selain daripada syaitan, iaitu godaan dunia dan pengaruh jahat manusia atau makhluk lain, Apabila seseorang hamba Allah terlalu meyakini kebaikan dirinya, merasa sudah banyak pahalanya, sudah banyak amal kebaikanya  maka orang itu telah terlupa dan ditipu oleh kejahatan nafsunya. Lalu tidak disadarinya, nafsunya telah menguasai dirinya dan dia patuh dianggap teman baik nurut  kepada arahan nafsun yaitu.Karena nafsulah berlakunya kemungkaran yang sering  kali dilakukan oleh makhluk,  yaitu ingatlah peristiwa  keingkaran Iblis terhadap perintah Allah agar ia menghormati nabi Adam ‘alaihissalam. Pendurhakaan Iblis itu sudah tentu berpuncak daripada dorongan nafsu. Nafsu Iblis menyuburkan rasa takabbur dan hasad yang akhirnya memusnahkan ibadat yang telah dikerjakannya selama delapan puluh ribu tahun. Kemudian Adam dan Hawa pula melanggar larangan Allah. Ini pun akibat angkara nafsu mereka yang bersekutu dengan tipu daya Iblis, sehingga mereka dilontarkan dari syurga ke dunia  yang hina dan fana ini. Lalu dunia dengan godaannya mejadi rekan kolega  kepada nafsu dan syaitan  dalam usaha mencelakakan hati nurani manusia sehingga hari qiamat. Pembunuhan manusia yang pertama dilakukan oleh Qabil terhadap saudaranya Habil (Kedua-duanya anak-anak Adam alaihissalam). Perbuatan pembunuhan  yang pertama dilakukan oleh manusia ini juga berpuncak daripada nafsu. Qabil dikuasai oleh pengaruh nafsu ammarah dan tipu daya syaitan yang menyuburkan rasa hasut dan bakhil. Kemaksiat pula dilakukan oleh Harut dan Marut yang juga telah dikuasai oleh nafsu, nafsu syahwat. Lalu mereka melakukan pelbagai maksiat, minum arak, berzina, membunuh dan seterusnya menjadi kufur. Demikianlah, tidak wujud fitnah, maksiat, keaiban dan kesesatan di kalangan manusia  melainkan berpuncak daripada hawa nafsu mereka sendiri.  Bagaimanapun, sebagaimana binatang buas,  nafsu juga boleh ditawan, dikawal dan dijinakkan. Berdasarkan kepada cara dan tahap-tahap kejaayaan mengawalnya, maka nafsu itu dibahaghikan kepada beberapa peringkat seperti berikut :

  • Nafsu Ammarh, nafsu  yang tidak dikawal atau tidak terkawal. Inilah
  • nafsu yang buas, amat kuat mendorong manusia kepada kejahatan.
  • Nafsu Lawwamah,nafsu yang menyadarkan manusia akan  perbuatan jahat yang telah dilakukannya lalu menyesalinya.
  • Nafsu Mutmainnah,nafsu yang terkawal, sudah hilang kebuasannya. Malah sudah menjadi jinak dan tenang.
  • Nafsu Rodhiyah, nafsu yang lebih tinggi martabatnya daripada nafsu Mutamainnah.
  • Nafsu Mardhiyyah, nafsu yang paling tinggi martabat kemuliaannya.Nafsu ini hanya dilimiliki oleh para Waliyullah.

Pencapaian kepada peringkat nafsu Mutmainnah itu sudah memadai untuk mendapat keridhaan Allah. AllahTaala berfirman , artinya :
Hai nafsu (jiwa) yang tenang. Kembalilah kepada
Tuhanmu dengan ridha dan diridhakan. Maka masuklah
ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke
dalam syurgaku. (QS. 89 : 27 – 30)
Nafsu perlu dikawal untuk mencapai peringkat-peringkat yang lebih baik dan terbaik itu. Mengikut Imam al-Ghazali : Pengawalan nafsu tak boleh dilakukan secara kekerasan atau paksaan yang berlebihan. Jangan dipatahkan kehendaknya secara sekali gus, kerana ia akan mendatangkan lebih mudarat. Dengan kawalan yang sederhana, lembut, perlahan-lahan dan secara berterusan, keangkuhan nafsu dapat ditundukkan. Kadang-kadang ia boleh dipergunakan untuk tujuan kebajikan. Ia juga boleh dikurung tetapi dalam kadar masa yang tidak berpanjangan. Karena bisa jadi diam-diam, tanpa disadari, ia membebaskan dirinya. Sebab itu ia harus sentiasa diawasi dan  diladeni dengan bijaksana dan telaten.
Menurut al-Ghazali lagi : Nafsu boleh dikekang dengan kekangan takwa. Dengan itu ia akan menjadi lemah dan tunduk mengalah. Kewarakan seseorang juga boleh membelenggunya sehingga ia tidak berpeluang menjalankan peranannya.Dengan kesedaran bahawa nafsu itu musuh yang akan mendatangkan kecelakaan,  ia perlu dilemahkan dengan penghinaan. Jangan sekali-kali diberi muka dan dilayani keinginannya.
Ulamak sufi menganjurkan tiga langkah untuk melemahkan hawa nafsu:
Pertama, setiap keinginan nafsu itu hendaklah dicegah dan ditahan. Ini berarti ia dikurung atau dibelenggu. Umpama binatang liar,  apabila dikurung atau ditambat, ia menjadi jinak juga akhirnya.
Kedua, hendaklah diberikan suatu tekanan atau deraan yang berat ke atasnya. Umpama kaldai yang  liar,  apabila dilebihkan muatan beban di atas belakangnya,  nescaya ia  menjadi  lemah dan akan menurut perintah, apa lagi kalau dikurangkan rumput untuknya.
Ketiga, hendaklah sering berdoa, memohon perlindungan daripada Allah Taala agar selamat daripada angkara nafsu jahat. Langkah ini penting,  kerana hanya dengan mendapat rahmat Allah Taala, hamba-Nya akan bebas daripada pengaruh atau tuntunan nafsu,  Dalam al-Quran, Allah mengisahkan, bahawa nabi Allah Yusuf alaihissalam bersabda , artinya :
Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan
kecuali orang yang dirahmati oleh Tuhanku. (QS. 12 : 53)
Dengan ketiga-tiga langkah tersebut, nafsu yang liar dan buas akan menjadi jinak, lemah dan menurut perintah denga izin Allah. Marilah Sama2 kita perang , tumpas semua musuh kita semoga Allah SWT Meridhoi, Semoga Amien…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s