PERLU KITA TAHU

9 KISAH H. MUTAHAR PENCIPTA LAGU HARI MERDEKA YANG HARUS KAMU TAHU

17 Agustus tahun 45 ! Itulah Hari Kemerdekaan kita. Hari Merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya Bangsa Indonesia… Mer. De. Ka ! ( Hari Merdeka, Ciptaan H. Mutahar)

Alhamdulillah. Tanggal 17 Agustus2016 ini kita sudah sampai ke usia 71 tahun bangsa Indonesia. Sungguh masa yang panjang yang sudah dilalui bangsa Indonesia. Mulai dari proklamasi, berbagai pemberontakan, hingga pembangunan – pembangunan telah kita lalui.

Puji syukur, Tuhan masih memberikan kesempatan kita untuk hidup bersatu sebagai bangsa. Walau disana-sini masih ada saja kabar tidak enak tentang gesekan yang terjadi di masyarakat. Kamu ga boleh tiru ya. Kita harus bersatu padu terus. Masih banyak banged hal – hal yang akan kita lakuin di masa – masa mendatang sebagai sebuah kesatuan. Masa depan yang gilang gemilang ada di pundak kita.

Perayaan Hari Kemerdekaan ga pernah lepas dari menyanyikan lagu 17 Agustus, selain kemungkinan besar kamu pun lupa atau tidak tahu siapa penciptanya, ternaya ada beberapa hal unik lain lho yang ada di balik penciptaan lagu ini. Simak ya ….

9 KISAH PENUH INSPIRASI DARI H. MUTAHAR

  1. TERNYATA SEORANG HABIB

Nama pencipta lagu 17 Agustus sering disingkat sebagai H. Mutahhar, yang merupakan kepanjangan dari Habib Husin Mutahhar. Beliau lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicinta. Diakui sebagai seorang habib berarti H. Mutahhar memiliki kematangan dalam hal umur,  memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya.

  1. MEMANG PEJUANG LUAR DALAM

Sebagai pemuda pejuang, H. Mutahar juga ikut dalam “Pertempuran Lima Hari” yang heroik di Semarang.

Pertempuran lima hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan tentara Jepang pada masa transisi kekuasaan setelah Belanda yang terjadi sejak tanggal 15 Oktober 1945 sampai dengan tanggal 20 Oktober 1945. Dua penyebab utama pertempuran ini adalah karena larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi . Nama dr. Kariadi, yang gugur dalam pertempuran tersebut kemudian diabadikan menjadi salah satu nama Rumah Sakit di Semarang.

  1. PERNAH JADI “SOPIR” BUNG KARNO

Ketika pusat pemerintah Indonesia hijrah ke Yogyakarta, H. Muntahar pernah diajak Laksamana Muda Mohammad Nazir yang ketika itu menjadi Panglima Angkatan Laut sebagai sekretaris panglima. Beliau diberi pangkat kapten angkatan laut.

Ketika mendampingi Nazir itulah Bung Karno kemudian mengingat Mutahar sebagai “sopir” yang mengemudikan mobilnya di Semarang, beberapa hari setelah “Pertempuran Lima Hari.”

Mutahar kemudian “diminta” oleh Bung Karno dari Nazir untuk dijadikan ajudan, dengan pangkat mayor angkatan darat.

4. PENDIRI GERAKAN PRAMUKA DAN PASKIBRAKA

Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.

Keren kan ?

  1. BANYAK MENCIPTAKAN LAGU

17 Agustus cuma salah satu lagu dari konon ratusan lagu yang beliau ciptakan. Lagu – lagu lain yang juga beliau ciptakan antara lain Syukur dan Hymne Satya Darma Pramuka.

  1. KISAH HEROIK MENYELAMATKAN BENDERA PUSAKA

Bagian yang ini aga panjang dan memang harus diceritakan dengan lengkap agar kamu bisa merasakan semangatnya

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda.

Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil H. Mutahar, yang saat itu merupakan ajudannya. Beliau lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia.

Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Mutahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu.

Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Mutahar dan beberapa staf kepresidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama)

Selama di Jakarta Mutahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerintahkan Mutahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kera-hasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.

Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Mutahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Mutahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Mutahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Sungguh sebuah kisah heroisme dari seorang H. Mutahar.

      7. Pernah Jadi Duta Besar Untuk Vatikan Mutahar Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973.

     8. MEMILIH TIDAK DIMAKAMKAN DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN

Husein Mutahar yang penuh kisah inspirasi ini kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan NegaraBintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 – 1949, namun beliau menolak dan memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan.

  1. TIDAK SUKA DIFOTO

Di dekat jenazah beliau, diletakkan sebuah foto berwarna berukuran besar H. Mutahar dalam seragam Pramuka, lengkap dengan tanda jasa Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, serta tanda kemahiran Pramuka sebagai pembina bertaraf internasional. Foto itu baru diambil dua minggu yang lalu oleh cucunya, dengan kamera digital pinjaman.

Foto itu sendiri merupakan firasat besar. Beliau tidak pernah suka dipotret. Ia selalu mencari alasan untuk pergi setiap kali melihat orang bersiap membuat  potret. Tiba-tiba ia ingin dipotret dengan berbagai atribut.

Sungguh sebuah kisah besar dari salah satu pejuang inspiratif republik ini. Saya yakin kamu pun banyak belum tahu tentang cerita – cerita yang saya sajikan ini kan ?

Saya pun awalnya begitu, ketika melakukan riset untuk menulis artikel ini. Sungguh tidak pernah tahu bahwa pencipta lagu yang karyanya kita nyanyikan saban tahun ini, memiliki kisah hidup yang luar biasa. Kisah orang biasa yang telah membaktikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara Indonesia.

 

H. Mutahar dan Kepramukaan

 

  1. Mutahar atau Husein Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan (sebelum lahirnya Pramuka), saat berdirinya Gerakan Pramuka, maupun setelah kelahiran Pramuka. Beliau telah aktif menjadi anggota kepanduan saat masih bersekolah di MULO dan AMS.

 

Dalam sejarah kepramukaan di Indonesia, beliau berperan aktif dalam Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia yang kemudian menyelenggarakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia pada tanggal 27 – 29 Desember 1945. Konggres ini sendiri kemudian berhasil membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan saat itu. Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia (1945 – 1961).

 

  1. Mutahar juga berperan aktif dalam usaha pendirian Gerakan Pramuka pada tahun 1961. Bersama tokoh-tokoh kepramukaan lainnya, beliau berjuang keras ketika saat usaha peleburan kepanduan menjadi pramuka berusaha dibelokkan oleh Partai Komunis Indonesia menjadi gerakan Pionir Muda yang berhaluan komunis.

 

Setelah berdirinya Gerakan Pramuka (14 Agustus 1961), Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Nasional hingga beberapa kali periode. Menjabat sebagai Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka periode 1973 – 1978. Selain itu, beliau juga aktif sebagai pembina pramuka hingga usia tuanya.

 

Bahkan dua minggu menjelang wafatnya, H. Mutahar meminta difoto dengan mengenakan pakaian pramuka lengkap dengan bintang jasa dan penghargaan yang diterimanya. Foto inilah yang kemudian dicetak dalam ukuran besar dan diletakkan di dekat jenazahnya saat beliau meninggal dunia. Padahal menurut berbagai pihak, H. Mutahar termasuk tokoh yang kerap menghindar ketika hendak difoto.

 

H. Mutahar Sang Pencipta Lagu Perjuangan

 

Bagi anggota pramuka H. Mutahar dikenal sebagai pencipta lagu Himne Pramuka atau Satya Darma Pramuka. Lagu Hymne Pramuka sendiri diciptakan pada tahun 1964. Lagu Satya Darma Pramuka ditetapkan sebagai Himne Pramuka dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 51.

 

Selain lagu Satya Darma Pramuka, Husein Mutahar juga menciptakan berbagai lagu lainnya, seperti:

  1. Syukur (1945)
  1. Himne Almamater (Himne Universitas Indonesia)
  2. Hari Merdeka (1946)
  3. Dirgahayu Indonesiaku
  4. Gembira
  5. Tepuk Tangan Silang-Silang
  6. Mari Tepuk
  7. Jangan Putus Asa
  8. Saat Berpisah (Tiba Saat Berpisah)
  9. Dwi Warna
  10. Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi)

Bagi anggota pramuka Satya Darma Pramuka (Himne Pramuka), Syukur, Saat Berpisah, dan Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi) merupakan lagu-lagu yang cukup dikenal. Meskipun beberapa diantara kita tidak menyadari bahwa lagu-lagu tersebut adalah karya dari Kak Mutahar.

Semoga kita semua, terutama saya mampu meneladani beliau.

Sumber Informasi :

Sayyid Habib Husin Al Muthahar, pencipta lagu 17 Agustus dan lagu kemerdekaan lainya, adalah juga salah satu pendiri Gerakan Pramuka

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat

Sayid Husein Mutahar Sang Penyelamat Bendera Pusaka

http://www.kompasiana.com/nanda_mulyana/mari-mengenang-h-mutahar_552877a8f17e610d528b4571