Potensi Siswa

MENGGALI POTENSI ANAK

Anak adalah berkah dan karunia Tuhan yang dititipkan kepada orang tua sebagai pemegang amanah.  Dalam menjalankan amanah tersebut orang tua mewarnai kepribadian anak lewat torehan pola pendidikan yang diterapkan sejak usia dini.  Keluarga sebagai based learning bagi anak merupakan sekolah pertama bagi anak.  Karena melalui keluarga sebagian besar kehidupan anak berlangsung.

Menurut Hurlock (1994) dan (Munandar (1999) , bila ditinjau dari psikologi perkembangan, masa anak dapat terbagi menjadi :

Masa bayi, yaitu sejak lahir sampai akhir tahun kedua

Masa awal anak atau masa kanak-kanak, ayitu dari permulaan tahun ketiga  sampai pada usia enam tahun.  Masa ini juga disebut masa prasekolah karena anak sudah mulai bersekolah di kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak (kindergarten)

Masa anak lanjut atau masa sekolah, yaitu dari usia 6 sampai 12 tahun.  Masa ini disebut juga masa usia sekolah dasar

Masa remaja yaitu masa menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif serta mengharapkan & mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab

 

Setiap tahap perkembangan memiliki tugas belajarnya sendiri, mulai dari tugas perkembangan motorik, intelektual, sosial, emosi dan kreativitas.  Oleh karena itu orang tua, sekolah dan pemerintah haruslah bersinergi dalam menciptakan iklim pendidikan yang kondusif bagi anak.  Karena setiap manusia mempunyai fitrah sebagai pendidik.

 

Anak memiliki keunikan sendiri, dimana setiap anak mempunyai karakteristik yang khas.  Berdasarkan keunikan ini maka orang tua, pendidik dan lingkungan harus dapat melihat potensi anak.

 

Potensi adalah kemampuan atau kekuatan atau daya, dimana potensi dapat merupakan bawaan (bakat) dan hasil dari stimulus atau latihan dalam perkembangan anak.

 

Seringkali terjadi bahwa orang tua dan guru tidak dapat mengenali potensi anak, sehingga anak-anak yang berpotensi dan berbakat tidak mendapatkan penanganan yang tepat.  Bahkan anak-anak  yang   tidak berprestasi dikarenakan mereka tidak diberikan stimulus dan pelatihan untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

 

Namun dalam melatih potensi anak, orang tua dan pendidik juga harus mengasah kreativitas anak.  Karena tanpa melatih kreativitas anak maka potensi kecerdasan dan bakat anak menjadi rendah.  Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah (Munandar, 1999).

 

Ciri-ciri anak yang kreatif adalah :

wajahnya cerah dan berfisik dinamis

berminat luas mulai dari musik-mata pelajaran-politik

sering bertanya yang berbobot

selalu ingin tahu, atau  mendapat penjelasan yang berdasar ilmiah

tidak berbatas tembok status

berani ambil resiko

mempunyai banyak alternatif untuk menyeleasikan masalah

tidak cepat puas, hampir selalu ingin sempurna

berani tampil beda,

senang menggali pengetahuan

mempunyai gagasan-gagasan yang original

 

Selain kreativitas konsep pengajaran menjadi hal yang penting untuk diperhatikan orang tua dan pendidik.  Salah satu penunjang munculnya potensi anak secara optimal dengan menggunakan konsep-konsep pendidikan dan pengajaran yang tepat..  Konsep-konsep pengajaran yaitu:

holistic education , berdasarkan kecintaan lingkungan dan mendorong kreativitas anak

Montessori,  berdasarkan potensi dan karakter anak sesuai dengan perkembangan anak

Multiple Intellegence /Kecerdasan majemuk, berdasarkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda

Smart reader, memacu potensi anak menjadi prestasi

Thematic Approach, penyampaian berdasarkan tema agar pemahaman anak menyeluruh terhadap suatu materi

Dll.

 

Berdasarkan konsep-konsep diatas, maka pada dasarnya konsep pengajaran akan berjalan dengan baik dan potensi anak akan optimal bila orang tua dan pendidik paham terhadap konsep-konsep tersebut.

 

Menurut Munandar (1999) dan Rachman (2006) untuk memupuk dan menciptakan suasana yang mendukung munculnya potensi anak  maka pendidik sebaiknya bersikap :

Menghargai kreativitas anak

Terbuka terhadap gagasan-gagasan baru

Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individual

Menerima dan menunjang anak

Menyediakan pengalaman belajar yang terdiferensiasi

Tidak sebagai tokoh yang ”Maha tahu” tetapi menyadari keterbatasan sendiri

Memberikan keleluasan anak untuk menjalankan model pembelajaran sehingga anak tidak dihambat pemikiran dan sikap serta perilaku kreatif anak

Sebagai model bagi anak

Sedangkan orang tua diharapkan bersikap :

Menunjukkan minat terhadap hobi tertentu

Menyempatkan berdiskusi dengan anak

Stimulus dengan bahan bacaan dan mainan edukatif

Menciptakan lingkungan rumah dimana orang tua berperan serta dalam kegiatan intelektual

Menciptakan lingkungan pembelajaran dan kreativitas seperti mengajak anak bernyanyi, menari, dll

Perlunya ruang di rumah untuk tempat kreativitas anak

 

Pendidikan merupakan  tanggung jawab bersama keluarga (orang tua), sekolah dan masyarakat.  Keluarga dan sekolah dapat bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak yang berpotensi yaitu dengan cara memandu dan memupuk minat anak.  Orang tua dapat membantu sekolah dalam merencanakan dan menyelenggrakan program-program kunjungan atau proyek-proyek tertentu yang menyentuh sendi-sendi kehidupan  dan sekolah dapat memfasilitasi potensi anak dengan menumbuhkan kreativitas mereka. Setiap anak memiliki keunikan dan kekhasan pribadinya masing-masing yang mempengaruhi tingkah lakunya dalam belajar.  Oleh karena itu orang tua harus menyadari perkembangan kepribadian anak, dengan memahami perkembangan anak maka kita dapat memecahkan masalah pendidikan. Dan dengan tingkat pemahaman besar terhadap perkembangan anak membuat orang tua dan pendidik dapat menggali potensi anak sesuai dengan minat dan bakat mereka.